Sekarang, Perpusduta hadir di TeamTalk!! Dengan channel Perpustakaan Dunia Cerita di server Indonesia lalu masuk ke Public room. Dapatkan aplikasi TeamTalk di App Store dan Play Store atau melalui website di bearware.dk
Channel YouTube Perpustakaan Dunia Cerita
Donasi Perpusduta
Hai, Pengunjung!
Beranda
Masuk
Daftar
Artikel | Folder Cerita Persahabatan
1 2 3 ... 5 >>

Perjuangan Seorang Sahabat

Yang ditambahkan:AdminDC (03.04.2017 / 17:23)
Rating:rating 10 article (0)
Jumlah dibaca:1303
Komentar:0
Penulis: P.vita Pitpit.

Sepanjang hari hujan tiada henti mengguyur kota kecil ini, mentari sempurna tak menampakkan sinar hangatnya, namun tak sedikit pun mengurangi keceriaan enam remaja itu. Mereka memang remaja-remaja yang selalu terlihat ceria, seolah tak pernah sekali pun masalah datang menyapa mereka. Padahal jika kita mengenal mereka lebih dekat lagi, niscaya rasa kagum akan terpancar di benak kita. Sebab, tidak semua orang bisa bersikap demikian. Sanggup tertawa di tengah keperihan hati, tersenyum meski hati menjerit menahan pedih.
Ke-enam remaja itu adalah Eprin, Mareta atau Tata, Aril, Afgan, Oxa atau yang lebih akrab disapa Oca, dan Evan. Mereka menyebut diri mereka "Six Stars" yang artinya enam bintang. Mereka berharap, mereka akan selalu memberi arti pada kehidupan ini, sebagaimana bintang-bintang yang selalu memberi keindahan pada langit malam.
Sore ini mereka berkumpul di sebuah gubuk reyot, tempat persinggahan bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh dan kehujanan di jalan. Mereka sedang membicarakan tentang rencana liburan mereka minggu besok.
“Kamu yakin kamu akan tetap ikut ke puncak, Ca?” tanya Afgan.
“Yakin dong!” jawab Oxa, mantap.
“Bagaimana kalau orangtuamu tidak mengizinkanmu?” tanya Afgan lagi.
“Aku tidak peduli! Aku sudah lelah mengikuti cara mereka. Aku selalu tidak diperbolehkan ke mana-mana hanya karena aku tidak dapat melihat dengan baik. Padahal, di luar sana banyak orang yang malah tidak bisa melihat sama sekali, tapi mereka bisa melakukan apa saja yang bisa dilakukan orang-orang yang berpenglihatan normal. Aku ingin bebas. Aku ingin bisa menghirup udara segar di luar rumah, dan hanya bersama kalianlah aku dapat merasakan kebahagiaan yang tidak ku temukan di rumah. Orangtuaku bisa saja memberiku benda-benda berharga, tapi bukan itu yang kubutuhkan. Pokoknya, apa pun halangannya, aku akan tetap ikut kalian ke puncak. Paling-paling juga hanya kemarahan yang ku terima jika melanggar peraturan mereka.” ucap Oxa sambil menahan isak.
“Sudahlah, Ca! Tak perlu menangis, nikmatilah hidup yang sebenarnya indah ini! Air mata hanyalah bukti kelemahan kita. Kamu boleh kok ikut kita ke Puncak besok.” ujar Evan. Lagaknya seperti seorang yang sedang mendeklamasikan sajak.
“Wih, Kahlil Gibran hidup lagi!” ucap Aril berkelakar. Semua tersenyum mendengar kelakar itu. Akhirnya, mereka sepakat untuk membiarkan Oxa ikut bersama mereka ke Puncak. Mereka pun membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing dan berjanji untuk kembali berkumpul di tempat ini minggu besok kemudian berangkat ke Puncak. Puncak yang mereka maksud di sini adalah puncak gunung yang terletak di sebuah Desa, sekitar 2 jam perjalanan jika menggunakan kendaraan pribadi dari Kota kecil ini. Jika naik angkutan umum, maka bisa lebih. Di sana pemandangannya memang sangat indah.
***
Pagi yang cerah, mentari bersinar dengan teriknya mengiringi langkah-langkah Eprin dan Oxa yang berjalan menuju gubuk reyot. Tempat di mana mereka biasa berbagi keceriaan, tempat yang menjadi saksi betapa mereka harus berjuang melawan perih yang hadir dari ketidak adilan hidup ini. Tapi, benarkah hidup tidak adil? Sebagian orang memang berpendapat seperti itu. Padahal, kenyataannya hidup ini adil. Teramat adil malah! Hanya saja, ketidak puasan terhadap apa yang kita temui di kehidupan inilah yang sering membuat kita berpikir bahwa hidup ini tidak adil. Secara tidak langsung, kita menganggap bahwa Allah-lah yang tidak adil. Sebab, ialah yang mengatur kehidupan ini. Sesungguhnya Allah maha adil, akan tetapi, keadilannya tidaklah dapat diukur dengan akal pikiran manusia.
Sesampainya di Gubuk reyot itu, keduanya hanya menemukan Aril dan Evan. Mereka tidak melihat Afgan dan Mareta. Pikirnya, mungkin mereka masih belum bangun.
“Wah, parah banget! Jam segini mereka belum datang juga. Biasanya, mereka yang paling cepat kalau mau ke mana-mana.” kata Aril.
“jangan-jangan, si Afgan kecelakaan lagi!” ucap Evan, asal ngomong.
“Huss, nggak boleh ngomong gitu, Van! Nggak baik tahu:” kata Eprin, mengingatkan.
“Iya deh, maaf! Ya udah, ni aku telepon dia dulu. Barangkali dia lupa kalau hari ini kita mau pergi.” kata Evan seraya mengeluarkan handphone dari saku celananya. Jarinya lincah menekan tombol kontak mencari nama Afgan. Tak berapa lama, telepon pun tersambung. Akan tetapi, ternyata bukan Afgan yang menerima telepon itu, melainkan ibunya.
“Halo!” terdengar suara Ibu Afgan di telepon.
“Afgannya mana, Tante?” tanya Evan.
“Di Rumah Sakit.” jawab Ibu Afgan.
“Memang, siapa yang sakit, Tan?” tanya Evan lagi.
“Afgan. Kemarin sore ia ketabrak motor. Udah baikan sih, tapi untuk sementara waktu kakinya tidak dapat digunakan berjalan.” jelas Ibu Afgan.
“Oh, gitu ya, Tan? Ya udah deh, moga cepat sembuh aja Afgannya.” kata Evan, tulus. Ia pun mematikan teleponnya kemudian berkata: “Nah, aku bilang juga apa? Si Afgan memang kecelakaan.””
“Emang dasar sial ya tu anak! Tahun kemarin, waktu kita mau liburan, dia juga kecelakaan. Sekarang malah kecelakaan lagi.” gerutu Aril.
“Nggak boleh gitu, Ril! Emang udah takdir kalau dia mau kecelakaan, tapi bukan berarti dia sial. Di dunia ini tu nggak ada yang namanya kesialan. Sekarang yang jadi pertanyaannya, si Tata ke mana? Coba deh kalian yang punya pulsa telepon dia!” ujar Eprin.
“Biar aku aja yang telepon dia.” pinta Oxa seraya mengeluarkan handphonenya dari tas kecil yang dibawanya. Tapi, belum sempat ia menekan tombol kontak, tiba-tiba ada SMS masuk. SMS dari Vivi, teman seasrama Mareta. Segera saja ia membuka dan membacanya dengan keras agar terdengar oleh ke-tiga sahabatnya. “Tata masuk Rumah Sakit, jantungnya kambuh.” Seketika wajah-wajah yang tadinya penuhh keceriaan itu berubah muram. Bahkan, Oxa mulai meneteskan air mata. Sedangkan Aril, Evan dan Eprin terdengar menghela napas panjang beberapa kali untuk menekan kedukaan yang menghimpit di dada. Mereka merasa amat prihatin dan berduka atas apa yang menimpa dua sahabat mereka, terutama kepada Mareta. Di Kota ini ia hanya sendirian. Semua keluarganya berada jauh di seberang Pulau. Ayah dan Ibunya telah berpulang, sedangkan saudara-saudara kandungnya sama sekali tidak mempedulikannya. Ia merantau ke Kota ini demi menuntut ilmu. Sebab, di Kampung halamannya ia tidak dapat melanjutkan Sekolah lantaran tak ada yang membiayainya. Di Kota ini ia tinggal di sebuah Asrama dan biaya Sekolahnya ditanggung oleh pemerintah.
“Wah, mengapa kita jadi selemah ini? Sudah, jangan bersedih! Kesedihan tidak akan merubah keadaan, kawan. Mending kita berdoa untuk kesembuhan mereka. Ingat, Six Stars bukanlah orang-orang yang mudah dihanyutkan duka.” ujar Aril, berusaha membangkitkan semangat sahabat-sahabatnya. Ke-tiga sahabatnya mengangguk setuju. Sekilas senyuman memancar dari bibir mereka. Mereka pun sepakat untuk membatalkan rencana ke Puncak lalu bergegas ke Rumah Sakit menjenguk dua sahabatnya yang dirawat di sana.
***
Hari-hari terus berlalu meninggalkan lembar demi lembar kisah suka-duka di kehidupan ini.
Download file txt | fb2
1 2 3 ... 5 >>

Beranda
0 / 5

Perpus Dunia Cerita


Kontak Kami (Facebook)
© Perpustakaan Dunia Cerita