Sekarang, Perpusduta hadir di TeamTalk!! Dengan channel Perpustakaan Dunia Cerita di server Indonesia lalu masuk ke Public room. Dapatkan aplikasi TeamTalk di App Store dan Play Store atau melalui website di bearware.dk
Channel YouTube Perpustakaan Dunia Cerita
Donasi Perpusduta
Hai, Pengunjung!
Beranda
Masuk
Daftar
Artikel | Folder Cerita Persahabatan
1 2 >>

Bunga Persahabatan

Yang ditambahkan:AdminDC (03.04.2017 / 17:30)
Rating:rating 11 article (1)
Jumlah dibaca:962
Komentar:1
Penulis: P.vita Pitpit.

Di sebuah negeri antah beranta, ada seorang putri Raja yang ingin mencari sahabat sejati. Ia rela berkeliling ke seluruh pelosok negeri tanpa ditemani seorang pengawal demi untuk mendapatkan sahabat sejati. Namun, sekian lama ia berkeliling, belum juga ia menemukan seorang sahabat sejati seperti apa yang selama ini selalu ia mimpi-mimpikan.
Pada suatu hari, tibalah ia di sebuah Desa kecil. Pemandangan di Desa itu amat menarik hatinya. Ia pun memutuskan untuk berhenti lama di Desa itu. Di Desa itu ia bertemu dengan 2 orang gadis sebayanya. Mereka adalah Maya dan Mentari. Keduanya adalah kakak beradik yang memiliki karakter yang bertolak belakang. Maya adalah seorang gadis yang amat cantik. Kecantikannya tidak kalah dengan kecantikan sang putri. Di Desa itu ialah gadis tercantik. Mungkin, hal itu pula yang menjadikannya sombong dan angkuh. Mentari adalah gadis yang wajahnya biasa-biasa saja, tapi ia selalu bersikap baik, lembut dan penuh kasih sayang. Ia tidak pernah marah atau pun dendam, sekali pun Maya sering berlaku kurang baik padanya. Keduanya adalah yatim piatu. Ayah Ibunya telah berpulang, dan kini mereka hanya tinggal berdua saja di rumah kecil nan sederhana. Sang putri amat kagum melihat kecantikan Maya, serta amat terkesan pada kelembutan sikap Mentari. Ia pun memutuskan untuk tinggal bersama mereka selama ia berada di Desa itu.
Sang putri berterus terang kepada mereka tentang siapa dirinya sebenarnya dan tujuannya datang ke Desa itu.
“Aku adalah seorang Putri Kerajaan. Aku berkeliling negeri untuk mencari sahabat sejati. Siapa pun yang terpilih menjadi sahabatku, aku akan membawanya serta ke Istana.”
Mengetahui maksud sebenarnya sang putri datang ke Desa tersebut, Maya menjadi amat girang. Ia pun berjanji di dalam hati untuk selalu bersikap baik kepada sang putri agar dirinya terpilih menjadi sahabat sang Putri. Sebenarnya, ia tidaklah terlalu ingin menjadi sahabat sang Putri. Ia lebih ingin ikut ke Istana. Sebab, ia telah bosan tinggal di Desa. Sedangkan Mentari, ia bersikap baik kepada sang putri karena memang dirinya selalu baik kepada siapa pun tanpa mengharapkan apa-apa sebagai balasannya. Dan sang Putri bisa merasakan itu.
Suatu sore, tepat sebulan sang putri tinggal bersama Maya dan Mentari di Desa, mereka berjalan-jalan di sebuah kebun bunga. Kebetulan hari itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun sang Putri. Sang Putri pun berniat menguji ke-2 gadis itu.
“Hari ini aku merasa sedih, sebab hari ini adalah hari ulang tahunku. Andai saja aku berada di Istana, pastilah aku mendapatkan hadiah yang indah dan bagus-bagus.” ujar sang Putri.
“Kau tak perlu bersedih! Aku punya hadiah untukmu.” kata Maya, bermaksud menghibur. Bersamaan itu, ia pun mengeluarkan seuntai kalung emas berhias intan permata dari sakunya. Sebenarnya kalung itu adalah kalung Mentari, pemberian dari Ibunya. Ia merampas kalung itu untuk diberikan kepada sang putri sejak pertama kali sang putri berterus terang tentang maksudnya datang ke Desa itu. Ia berharap, dengan memberinya kalung, dirinya akan terpilih menjadi sahabat sang Putri. Maya mengulurkan tangan untuk menyerahkan kalung tersebut kepada sang Putri. Sang Putri pun menerima kalung tersebut sambil bertanya, “Mengapa engkau memberiku kalung ini, dan dari mana engkau mendapatkan kalung ini?”
“Tidak penting kalung itu berasal dari mana. Aku memberikan kalung itu padamu agar kau memilihku menjadi sahabatmu dan engkau mau mengajakku ikut ke Istanamu. Aku sudah bosan tinggal di Desa ini.” jawab Maya. Sang Putri mengangguk-angguk mengerti. Sejurus kemudian, ia pun menoleh kepada Mentari dan bertanya, “Apakah engkau pun mempunyai sesuatu yang dapat engkau berikan kepadaku?” Mentari hanya mengangguk. Lalu, ia menyerahkan sebuah bungkusan kepada sang Putri. Bungkusan tersebut ternyata berisi gaun. Gaun yang tidak begitu bagus apalagi jika dibandingkan dengan kalung pemberian Maya. Sang Putri menerima gaun tersebut sambil tersenyum.
“Mengapa engkau memberiku gaun ini?” tanyanya kemudian.
“Maafkan aku, aku hanya bisa memberikan itu. Gaun itu aku sendiri yang merajutnya. Aku tidak punya uang untuk membeli hadiah untukmu. Tapi, aku memberikannya dengan ikhlas. Aku tak mengharapkan balasan apa pun darimu.” jawab Mentari dengan suaranya yang lembut. Ketiganya terdiam. Sejurus kemudian, sang Putri memetik setangkai bunga lalu berkata, “Bunga ini adalah bunga Persahabatan. Aku hanya akan memberikan kepada dia yang layak menjadi sahabatku.” kemudian, ia menyerahkan bunga tersebut kepada Mentari. Melihat hal itu, seketika Maya menjadi amat marah. Dirampasnya bunga tersebut dengan kasar seraya berkata, “Mengapa engkau memberikan bunga itu padanya? Bukankah aku telah memberimu seuntai kalung? Sedangkan dia, dia hanya memberimu sebuah gaun jelek.”
“Memang benar, engkau telah memberiku sebuah kalung. Tapi, engkau memberikannya tanpa disertai rasa ikhlas. Di balik pemberianmu terselip kepentingan diri sendiri. Aku tahu, engkau tidak ingin menjadi sahabatku. Engkau hanya ingin ikut ke Istanaku. Sedangkan Mentari, walau pun ia hanya memberiku sebuah gaun, tapi ia memberikan tanpa mengharap balasan. Ia memberikan gaun itu dengan tulus dan ikhlas. Dan bagiku, keikhlasan dan ketulusan amat berharga melebihi apa pun. Bukanlah bentuk dan jumlah pemberiannya yang penting, melainkan niatnya. Aku telah memilih Mentari sebagai sahabatku, sebab hanya dia yang pantas menjadi sahabatku. Hari ini juga aku akan mengajaknya ikut ke Istana bersamaku.”ujar sang Putri. Mendengar kata-kata itu, Maya menjadi marah. Saking marahnya, ia sampai menangis dan tak tahu harus berkata apa. Harapannya untuk tinggal di Istana pupus sudah.
Hari itu juga sang Putri mengajak Mentari ke Istana. Hari ini aku akan kembali ke Istana. “Karena engkau adalah sahabatku, engkau harus ikut bersamaku. Aku tidak ingin berpisah darimu.” ujar sang Putri.
“Maafkan aku, aku tidak mungkin ikut bersamamu kecuali Maya ikut bersama kita. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri di sini. Aku adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Sedangkan engkau, tanpa aku ikut bersamamu ke Istana, engkau tetap tak akan kesepian. Engkau masih memiliki banyak keluarga di sana” kata Mentari.
“Tapi, dia adalah orang jahat. Dia selalu berbuat tidak layak kepadamu.” bantah sang Putri.
“Sejahat-jahatnya dia, dia tetaplah saudaraku. Aku percaya, kelak ia bisa berubah. Orang jahat bisa menjadi baik. Begitu pun sebaliknya. Yang baik juga bisa saja menjadi jahat. Dan bagiku dia bukanlah orang jahat, hanya saja dia terlalu mementingkan dirinya sendiri.” kata Mentari lagi. Mendengar Mentari yang rela menolak ikut ke Istana demi dirinya, seketika itu juga Maya menjadi sadar. Mata hatinya terbuka. Ia sadar betapa selama ini ia selalu berbuat jahat kepada Mentari. Ia terlalu mementingkan dirinya sendiri. Kini ia mengerti mengapa sang Putri memilih Mentari sebagai sahabat dan bukan dirinya. Mentari memang seorang sahabat dan adik yang baik. Ia pun meminta maaf
Download file txt | fb2
1 2 >>

Beranda
0 / 10

Perpus Dunia Cerita


Kontak Kami (Facebook)
© Perpustakaan Dunia Cerita