Sekarang, Perpusduta hadir di TeamTalk!! Dengan channel Perpustakaan Dunia Cerita di server Indonesia lalu masuk ke Public room. Dapatkan aplikasi TeamTalk di App Store dan Play Store atau melalui website di bearware.dk
Channel YouTube Perpustakaan Dunia Cerita
Donasi Perpusduta
Hai, Pengunjung!
Beranda
Masuk
Daftar
Artikel | Folder Cerita Islam

Tuhan, Izinkan Aku Kembali Ke Jalan Mu!

Yang ditambahkan:AdminDC (03.04.2017 / 17:55)
Rating:rating 14 article (1)
Jumlah dibaca:325
Komentar:0
Penulis: P.vvita Pitpit

Lantaran sering gagal dalam banyak hal, aku menjadi putus asa.
Aku merasa amat kecewa, sebab tak satu pun keinginan ku yang tercapai. Bahkan dalam hal kecil sekali pun, aku selalu sial.
Aku jadi berpikir bahwa Tuhan tidak adil. Mengapa orang lain bisa mendapat apa yang mereka ingin, sedang aku tidak? Ditambah lagi sikap keluarga yang seakan tak bisa menerima keadaan ku sebagai seorang tuna netra, sungguh membuat ku semakin stress.
Aku merasa bahwa di dunia ini tak ada yang peduli pada ku, bahkan Tuhan pun tak mau mendengar doa ku.
Pikiran ku mulai meragu, apakah Tuhan itu benar ada? Aku pun mulai meninggalkan shalat untuk beberapa hari. Hingga malam itu, tepatnya malam menjelang ramadhan.
Aku bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki muda yang hanya ku kenal lewat telepon saja.
Ia menyapaku dengan suaranya yang lembut.
“Apa yang sedang terjadi pada mu, Pit? Mengapa engkau seperti orang yang kehilangan arah?” tanyanya.
“Aku tak tahu apa yang sedang terjadi pada ku, yang jelas aku merasa bahwa Tuhan itu tak ada.” jawab Ku. “Jika ada, mengapa ia membiarkan ku begini?” lanjut ku, mengeluh.
Lelaki itu terdiam. Lalu ia berkata: “Tahukah kau bahwa kau telah kalah?”
“Aku memang telah kalah. Kalah dalam segala hal.” kata ku.
“Bagus kalau kau telah tahu, tapi satu yang tak kau sadari, engkau telah membiarkan setan memanfaatkan keadaan mu. Tidakkah kau tahu, sungguh telah kafir engkau? Pernahkah kau berpikir bagaimana jika Tuhan mencabut nyawa mu dalam keadaan begini, maka engkau adalah makhlut Tuhan yang paling celaka! Sia-sia semua amal perbuatan baik yang engkau kerjakan selama ini.” ujarnya tegas.
Kata-kata itu ibarat air hujan yang mengguyur kepala ku, menembus hati ku yang kering, menyejukkan jiwa ku.
Seketika, air mata ku jatuh tak tertahankan. Dan saat itu juga aku terbangun dari tidur ku dalam keadaan menangis. Seluruh badan ku berkeringat. Ketakutan yang amat sangat menyergap hati dan pikiran ku.
Andai saja aku mati saat itu, benarlah aku mati kafir. Aku beristigfar sambil menangis, penyesalan yang amat sangat menyelimuti ku.
Menyesal karena pernah meragukan keberadaan Tuhan ku, menyangsikan keadilannya.
Sejak malam itu, aku bertekad untuk bangkit dari keterpurukan ku, dan berjanji untuk tidak membiarkan setan memperdayakan ku.
Semoga Tuhan selalu membimbing langkah ku untuk kembali ke jalannya.
Maha suci engkau ya Allah, betapa besar kecintaan mu terhadap ku. Saat aku meragukanmu, engkau tetap menyelamatkan ku dari kehinaan melalui seorang perantara untuk mengingatkan ku betapa engkau amat menyayangi ku.
Kini aku sadar, bukanlah Tuhan yang tidak adil, tapi keadilan Tuhan tidaklah dapat diukur dengan akal pikiran manusia.
Ya Allah, di Ramadhan kali ini, aku berharap bisa lebih dekat dengan mu. Semoga kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi. Baik di kehidupan ku, atau pun pada orang lain. Terima kasih ya Rab atas kesempatan berharga yang telah engkau berikan pada ku yang nyaris celaka ini.
Semoga selalu aku berada di jalan mu, sampai saatnya tiba waktu ku menghadap mu. Aamiin!
Download file txt | fb2

Beranda
0 / 5

Perpus Dunia Cerita


Kontak Kami (Facebook)
© Perpustakaan Dunia Cerita