Sekarang, Perpusduta hadir di TeamTalk!! Dengan channel Perpustakaan Dunia Cerita di server Indonesia lalu masuk ke Public room. Dapatkan aplikasi TeamTalk di App Store dan Play Store atau melalui website di bearware.dk
Channel YouTube Perpustakaan Dunia Cerita
Donasi Perpusduta
Hai, Pengunjung!
Beranda
Masuk
Daftar
Artikel | Folder Cerita Cinta
1 2 3 >>

Meet The Parents

Yang ditambahkan:admin-dc (31.03.2017 / 16:47)
Rating:rating 5 article (1)
Jumlah dibaca:1052
Komentar:0
Sabtu siang itu di dapur rumah keluarga Weasley, Ron duduk menghadapi makan siangnya tak berselera. Sedari tadi dia hanya menusuk-nusuk pai dagingnya tak
bersemangat. Sebentar-sebentar dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan kirinya, tampak ngeri menatap jarumnya yang berputar.

“Kau bisa membuat pai daging itu jadi bubur kalau terus-terusan menusuknya seperti itu, Ron,” komentar George yang duduk di sebelah Ron.

Ron langsung berhenti menusuk-nusuk makan siangnya, secuil daging terlempar keluar dan mendarat di piring George yang langsung menusuknya dengan garpu
dan melahapnya. Ron kini ganti mengetuk-ngetukkan garpunya ke pinggiran gelas pialanya yang berisi penuh jus labu kuning, membuat semua orang di meja makan
itu merasa terganggu karena bunyinya.

“Ron!” tegur Ginny dari seberang meja, mendelik jengkel ke arah Ron.

“Apa?!” tantang Ron agak galak, tangannya semakin cepat mengetukkan garpu ke gelas pialanya.

“Berhenti mengetukkan garpu ke gelas pialamu! Berisik, tahu!” sembur Ginny kesal.

Ron melemparkan garpunya ke atas piring, menimbulkan suara berdenting keras. “Aku sudah selesai,” katanya sambil mendorong piringnya menjauh. Dia bersiap-siap
bangkit dari duduknya meninggalkan meja makan, tapi Mrs. Weasley menahannya.

“Kau sama sekali belum makan apa-apa dari pagi tadi. Makanlah sedikit, Ron, ini kan pai daging kesukaanmu,” Mrs. Weasley tampak agak khawatir melihat Ron.

Ron menggeleng. “Maaf, Mum, tapi aku benar-benar sedang tidak bisa makan. Pai ini membuatku mual,” kata Ron sambil cepat-cepat meneguk jus labu kuningnya,
kemudian kembali melirik arlojinya. “Oh! Tidak! Aku akan terlambat!” serunya panik.

“Astaga, Ron! Ini baru jam setengah satu siang. Kau punya waktu setidaknya enam jam untuk bersiap-siap sebelum sampai di sana tepat waktu,“ George menggeleng-geleng
heran melihat kepanikan Ron.

“Ya, santai sajalah,” Mr. Weasley ikut berkomentar.

“Aku tidak bisa! Aku harus memastikan semuanya,” kata Ron, kini berpaling ke arah Harry   yang sengaja dimintanya datang untuk membantunya, “Harry, bisakah
kau ikut aku ke atas? Aku butuh bantuanmu,” pintanya.

Harry yang sedari tadi diam saja memandang Ron dan makan siangnya yang baru setengahnya dimakan bergantian. Demi melihat sorot mata memohon Ron dan kepanikan
di wajahnya, Harry pun tidak tega dan akhirnya memilih meninggalkan makan siangnya meskipun dengan sedikit berat hati. Harry mengangguk lalu berjalan mengikuti
Ron ke atas, mengabaikan protes perutnya.

* * *
“Menurutmu sebaiknya aku pakai kemeja yang ini atau yang ini?” Ron mengeluarkan dua stel kemeja dari dalam lemari.

“Yang ini saja,” tunjuk Harry pada kemeja biru lembut dengan garis-garis halus hitam.

“Yang ini?” Ron menatap kemeja di tangan kanannya, “apa ini tidak terlalu biasa? Bagaimana kalau yang kuning muda ini?”

Harry mengangguk. “Ya, yang itu juga cocok,” komentarnya.

“Tapi warnanya terkesan kekanakan,” kata Ron, lalu berbalik mengambil kemeja lain dari dalam lemari, “kalau yang ini bagaimana?”

“Mm.. jangan yang itu. Warnanya terlalu suram, nanti kau dikira pergi ke pemakaman,” Harry menggelengkan kepalanya lalu beranjak ke lemari untuk memilihkan
kemeja lain yang lebih tepat untuk Ron. Mereka menghabiskan hampir setengah jam hanya untuk memilih kemeja mana yang sebaiknya dikenakan Ron nanti. Akhirnya
setelah mengeluarkan hampir seluruh isi lemari, Ron menjatuhkan pilihannya pada kemeja biru lembut dengan garis-garis halus hitam, kemeja pertama yang
dipilihkan Harry tadi.

“Kurasa yang ini memang lebih cocok,” kata Ron puas, “tidak terlalu formil tapi juga tidak terlalu biasa, cocok dengan situasinya. Warnanya juga bagus.
Trims, Harry,”

Harry mengangguk, lega akhirnya Ron menemukan juga kemeja yang cocok untuknya. Mengherankan sebetulnya melihat Ron begitu memperhatikan soal apa yang akan
dikenakannya, mengingat selama ini Ron tidak pernah ambil pusing soal pakaian. Asalkan bersih, nyaman, dan tidak aneh, tidak masalah baginya.  Dia tidak
akan repot-repot memilih pakaian mana yang akan membuatnya tampak lebih kurus atau lebih berotot.

Ron melambaikan tongkat sihirnya ke arah tumpukan pakaian di atas tempat tidur, dan pakaian-pakaian itu pun berbaris rapi masuk kembali ke dalam lemari.
Harry sedang asyik memperhatikan barisan pakaian itu melayang masuk ketika Ron yang berdiri di belakangnya berteriak kaget. Harry berbalik dan melihat
Ron melotot dengan mulut ternganga, tangannya menunjuk sesuatu di atas meja.

“Ada apa?” tanya Harry bingung. Dia sama sekali tidak melihat ada sesuatu yang aneh di atas meja.

“Jam lima!” kata Ron gusar, “sekarang sudah jam lima! Jenggot Merlin! Aku belum bersiap-siap! Oh, aku pasti terlambat!” lanjutnya panik.

Harry mengernyit melihat jam meja Ron, rasanya ada yang salah dengan jam meja itu. Mereka baru beberapa saat lalu makan siang, tidak mungkin sekarang sudah
jam lima sore. Harry mengecek arlojinya dan mendapati kedua jarumnya berada di angka dua. Harry langsung paham dan bergegas menghampiri jam meja Ron.

“Lihat ini, Ron!” panggil Harry sambil mengangkat jam meja itu, “jarumnya tidak bergerak sama sekali. Jam ini mati.”

“Kau yakin?” tanya Ron seraya berjalan mendekat agar bisa mengamati jam tersebut lebih jelas.

Harry mengangguk. “Coba saja cek arlojimu. Sekarang baru jam dua lebih.”

Ron mengecek arlojinya sendiri. “Kau benar!” serunya lega. “Syukurlah! Aku tidak bisa membayangkan kalau aku sampai terlambat. Aku pasti akan mengacaukan
semuanya.”

“Kurasa kau terlalu tegang,” kata Harry sambil duduk di atas tempat tidur Ron. “Ayahmu benar. Santai sajalah.”

“Bagaimana aku tidak tegang?” ujar Ron, menatap kedua mata Harry lurus-lurus. “Makan malam ini benar-benar penting untukku, Harry. Ini pertama kalinya
aku akan bertemu kedua orang tua Hermione. Maksudku, aku memang sudah pernah bertemu mereka sebelumnya, tapi kan tidak seperti ini.”

“Anggap saja seperti kau bertemu dengan orangtuamu sendiri,” Harry coba memberi saran.

“Mana bisa?” tukas Ron stres. “Aku sudah mengenal kedua orang tuaku seumur hidupku. Sedangkan mereka? Aku hanya mengenal mereka dari apa yang diceritakan
Hermione saja. Itu membuatku tidak tahu bagaimana berhadapan dengan mereka,” Ron berhenti sejenak lalu meneruskan dengan suara lemah, “terlebih lagi mereka
Muggle. Aku tidak tahu kehidupan mereka seperti apa. Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa nyambung dengan obrolan mereka? Atau yang lebih parah lagi, bagaimana
kalau aku tidak bisa memberikan kesan baik di mata mereka?”

“Jangan terlalu mencemaskannya, Ron,” kata Harry sambil menepuk-nepuk bahu Ron pelan, “ Jadilah dirimu sendiri, apa adanya. Aku yakin kau pasti bisa menghadapinya.”

“Yeah, semoga kau benar,” ujar Ron berharap.

* * *
Ron berdiri gelisah di luar pintu rumah bercat kuning pucat dengan kusen putih pada sisi-sisi jendela dan pintunya, berusaha untuk menenangkan diri. Dia
berkali-kali menarik napas panjang, berusaha meyakinkan bahwa segalanya akan baik-baik
Download file txt | fb2
1 2 3 >>

Beranda
0 / 7

Perpus Dunia Cerita


Kontak Kami (Facebook)
© Perpustakaan Dunia Cerita