Sekarang, Perpusduta hadir di TeamTalk!! Dengan channel Perpustakaan Dunia Cerita di server Indonesia lalu masuk ke Public room. Dapatkan aplikasi TeamTalk di App Store dan Play Store atau melalui website di bearware.dk
Channel YouTube Perpustakaan Dunia Cerita
Donasi Perpusduta
Hai, Pengunjung!
Beranda
Masuk
Daftar
Artikel | Folder Cerita Horor
1 2 3 ... 16 >>

Hantu Telepon

Yang ditambahkan:admin-dc (31.03.2017 / 18:30)
Rating:rating 8 article (1)
Jumlah dibaca:3994
Komentar:0
Ira sudah terkantur-kantuk menunggu telepon dari pacarnya. Namun hingga pukul 11 malam, Hendro nggak juga menelpon. Padahal biasanya, sejak magrib sampai
jam segini Hendro bisa 2-3 kali menelpon. Sempat ada keinginan untuk menelpon laki-laki yang bekerja sebagai sopir travel itu. Namun Ira mengurungkan niatnya.
Ada tembok penyekat yang menghalangi niatnya itu.
Akhirnya telepon genggam Ira berdering. Saat itu jam di HP menunjukkan pukul 12 kurang dikit. Di layar HP tertulis nama Cay (panggilan sayang Ira pada
Hendro). Ira pun mengangkat HP dan….
“Selamat malam sayang…”
Ira terlonjak. Itu bukan suara Hendro. Ia hafal benar suara kekasihnya.
“Si..siapa ini?” tanya Ira.
“Lihatlah layar Hp kamu…”
Reflek Ira melihat layar Hp dan spontan memekik histeris. Di layar Hpnya muncul gambar mirip Hendro namun dahinya mengeluarkan darah kental, biji matanya
keluar sementara hidungnya hilang, tinggal lubang menganga yang terus mengeluarkan nanah. Padahal jika sedang berdua, Ira paling suka memencet-mencet hidung
itu.
Ira akhirnya pingsan. Namun tidak ada satupun orang yang mengetahuinya. Maklum, Ira tinggal di mes pabrik dan malam itu kawan-kawannya sedang kerja shift
malam. Ira baru siuman ketika hari sudah siang dan pintu kamarnya ada yang menggedor-gedor. Terlebih ketika ada yang menyiram air dari kaca jendela.
“Katanya semalam-kamu mekik-mekik sendiri. Tukang sate yang kebetulan lewat mendengar ada suara orang memekik-mekik tapi tidak berani mendekat. Tadi pun
pintunya sudah kami gedor-gedor puluhan kali tetapi kamu tetap tidak bangun, makanya kami siram air,” ujar Ica memberi alasan mengapa sahabatnya itu sampai
disiram air.
Ira langsung ingat kejadian semalam. Ia kemudian mencari Hpnya dan menemukannya di lantai, agak jauh dari tempat tidur. Rupanya semalam ia sempat melemparkan
Hp itu. Dengan bulu kuduk merinding, Ira membalik Hp itu dan melihat layarnya. Aneh, gambar seram semalam sudah tidak ada. Kini di layar HP hanya ada gambar
dirinya yang tengah memeluk Hendro.
“Ada apa Ira?”
Ira menggeleng. Namun setelah didesak, Ira akhirnya menceritakan kejadian semalam.
“Coba sekarang kamu telepon Hendro…” saran Tara.
“Aku tidak berani,” jawab Ira lemah.
“Kenapa? Ada apa sebenarnya? Kamu selalu menyembunyikan soal hubunganmu dengan Hendro. Ada apa sebenarnya?”
“Hendro sudah punya istri…”
Bola mata Ica dan Tara hampir terlempar dari sarangnya saking terkejutnya. Namun ketika hendak mendesak Ira, mereka tidak enak hati. Kondisi Ira sangat
memprihatinkan. Tubuhnya sangat lemah dan wajahnya pucat-pasi.
“Ya, sudah kamu istirahat saja. Ngga usah kerja dulu. Biar nanti saya ijinkan sama supervisormu,” kata Ica. 
Hingga malam Ica tak juga habis mengerti bagaimana Ira bisa berhubungan dengan laki-laki yang sudah bersuami. Ketika jam istirahat, sekitar pukul 12.10
malam Ica pulang ke mes. Di samping mau mengambil pembalut karena tiba-tiba datang bulan, Ica juga ingin menengok sahabatnya. Kamar mes Ica dan Ira memang
bersebelahan. Satu kamar mes diisi dua orang, Ica tinggal bareng Tara, sementara Ira berdua Titis. Namun saat ini Titis tengah cuti sehingga Ira praktis
tinggal sendirian.
Sebagai sesama perantau, hubungan Ica , Tara dan Ira sangat dekat. Bagaimanapun mereka jauh dari keluarga sehingga sahabatlah yang menjadi tempat bergantung
dan berkeluh-kesah ketika ada masalah. Sebenarnya Ica tadi mau ijin tidak masuk kerja untuk menemani Ira, yang masih shock. Namun Ira melarangnya karena
tidak ingin temannya berkorban terlalu banyak.
Ica merasa suasana mes malam ini sangat sepi. Para penghuninya yang kebetulan shift siang sudah pada tidur karena besok harus bangun pagi untuk bekerja.
Sementara mereka yang masuk malam, pasti enggan pulang karena jarak mes dengan pabrik cukup jauh. Kalau tidak ada kebutuhan yang benar-benar mendesak,
jam istirahat kerja pasti dimanfaatkan untuk tidur di kantin atau sekedar ngobrol dengan teman-temannya, daripada pulang ke mes.
Mes ini mampu menampung sekitar seribu pekerja. Namun bangunan kayu lantai II itu cukup seram karena minimnya penerangan. Mes ini terbagi dalam beberapa
bangunan yang mempunyai tipe sama. Pembedanya hanya pada penamaan seperti Blok A, B, C dan seterusnya. Ica sempat merinding ketika melewati mes A. Tahun
kemarin di blok ini ada karyawan perempuan yang tewas gantung diri usai diperkosa oleh lima orang yang tengah mabok. Akibat rasa malu yang tak terkira,
gadis manis itu memilih jalan pinta lewat seutas tali. Ica pernah mendengar, pada malam-malam tertentu sering terdengar suara perempuan yang meminta tolong
diselingi tawa yang menyeramkan.
Ica sedikit mempercepat langkahnya. Tiba di ujung Blok A, ia merasa ada yang mengikutinya. Namun ia tidak berani menoleh. Ia hampir melompat ketika tiba-tiba
handphonenya berdering.  Setelah menghela nafas panjang, Ica mengambil Hpnya dari saku baju di bagian dada. Sialan, umpat Ica ketika melihat nama Tara.
Ngaget-ngagetin orang saja!
“Ada ap…aa….” Ica tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Di ujung telepon genggamnya ia mendengar suara rintihan. Tapi bukan suara Tara.
“Ngga usah meledek,” bentak Ica setelah berhasil mengatur nafas. Bulu kuduknya berdiri.
“Hihihi…coba kamu lihat ke belakang. Saya yang menelpon kamu,” kata suara di seberang HPnya.
Perlahan Ica menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke belakang. Namun ia tidak sempat benar-benar menoleh ke belakang karena ketika kepalanya tengah berputar,
jidatnya hampir menyentuh kepala perempuan dengan wajah pucat pasi. Bahkan hidung Ica pun bersentuhan dengan hidung perempuan itu.
“Wuaaaaaaaaaaaaah……tolooooooooooooong…!!!” jerit Ica sekuatnya.
Ica berusaha untuk lari menjauhi sosok itu, namun tidak berhasil. Sosok itu menempel di bahu kirinya. Ica semakin ketakutan karena sosok itu tenyata hanya
kepala berambut panjang, tanpa badan, tangan dan kaki. Darah yang terus menetes dari ujung bibir perempuan itu pun membasahi baju kerja Ica.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Ica berusaha melawan rasa takut.  Ditepisnya kepala wanita tanpa anggota badan lainnya itu. Namun usahanya sia-sia. Semakin
kuat ia menepis, semakin kuat pula kepala itu menempel di pundaknya. Ica kini merasa sendi lututnya copot sehingga ia tidak kuat lagi berlari.
“Tolooooong….tolooooong….” pekiknya dengan suara tercekat.
 Ica berusaha mengumpulkan tenaga agar dirinya tidak jatuh. Kepala perempuan itu kini mulai mengeluarkan suara rintihan seperti orang menahan sakit. Hantu
itu menangis! Namun yang keluar dari kedua matanya bukan air, melainkan darah segar!
“Tolonglah aku…. Aku sudah tidak kuat hidup dengan kepala saja….” kepala perempuan itu bersuara. “Aku pengin bikin nasi goreng tapi tidak bisa karena tidak
punya tangan….”
Ica memekik sekuatnya. Ia heran mengapa satpam mes yang biasa keluyuran di sini sekarang sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Padahal sudah bukan
rahasia lagi jika setiap malam satpam-satpam itu rajin menyambangi mes Blok A, B dan C- mes khusus karyawan perempuan, sambil mengintip. Beberapa karyawan
Download file txt | fb2
1 2 3 ... 16 >>

Beranda
0 / 6

Perpus Dunia Cerita


Kontak Kami (Facebook)
© Perpustakaan Dunia Cerita